Sanitasi di Indonesia Masih Butuh Perhatian Lebih

Dalam rangka memperingati Hari Toilet Sedunia

Hari Toilet Sedunia yang diperingati setiap 19 November selalu memberikan ide atau inovasi untuk mengatasi krisis sanitasi secara global. World Health Organization (WHO) mengangkat tema sanitasi berkelanjutan dan perubahan iklim untuk Hari Toilet Sedunia tahun ini. Alasannya dipilihnya tema tersebut karena saat ini dunia sedang mengalami perubahan iklim yang sangat signifikan. Hari Toilet Sedunia ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk mematahkan tabu seputar toilet dan mewujudkan sanitasi yang baik dan sehat di seluruh dunia.

Sanitasi di Indonesia

Kondisi sanitasi di Indonesia memang sudah membaik. Terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS), rumah tangga di indonesia yang memiliki sanitasi yang layak pada tahun 1999 hanya 32,56% (16,67 juta rumah tangga). Kemudian pada 2015, rumah tangga yang bersanitasi layak mencapai 62,14% (40,76 juta rumah tangga). Data terbaru dari Susenas pada 2019, sebanyak 77,4% rumah tangga yang memiliki sanitasi yang layak. Terlihat lebih membaik bukan? Namun, kenaikan ini cenderung meningkat di daerah perkotaan. Daerah pedesaan masih banyak sekali yang menggunakan sungai sebagai jamban dan sumber air utamanya. Dari 35 Provinsi di Indonesia, tiga provinsi yang memiliki sanitasi terburuk adalah Provinsi Papua, Provinsi Bengkulu, dan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Saya yang memiliki kampung halaman di Palembang dan sering pulang kampung melalui jalur darat dengan kendaraan mobil selalu merasa gelisah tiap pulang kampung. Perjalanan dari rumah saya ke kampung halaman, sering diwarnai oleh kejadian menunda buang air karena toilet umum yang sangat tidak layak.

Terkadang saya menemukan toilet umum di suatu tempat pengisian bensin di tengah hutan atau di pinggir pantai yang sangat kotor. Lantainya penuh dengan pasir yang basah, lampu mati, dan air kerannya terkadang berbau. Jika saya menemukan toilet seperti itu, saya terpaksa kembali ke mobil dan mencari toilet umum selanjutnya selama perjalanan. Setiap tahun saya pulang kampung ke Palembang, saya selalu merasa prihatin dan miris dengan keadaan sanitasi di daerah tersebut. Bagaimana mereka hidup dengan bersih jika fasilitas sanitasinya seperti itu? Saya sangat bersyukur hidup di Jawa Barat yang banyak memiliki fasilitas sanitasi yang layak di tiap daerahnya. Menurut WHO hampir 25 juta orang di Indonesia tidak menggunakan toilet.

Mereka melakukan Buang Air Besar Sembarangan (BABS) di hutan, semak, ladang, parit, jalan, sungai atau tempat terbuka lainnya. Kondisi ini terjadi sebagian besar karena masalah ekonomi, sehingga mereka tidak dapat membangun toilet yang layak.

Namun, masih banyak masyarakat yang melakukan BABS karena masih belum terbiasa membuang air besar di toilet.Permasalahan BABS bukan hanya membuat kita terlihat tidak teredukasi dan miskin. Namun, BABS memiliki risiko yang sangat besar terhadap kesehatan masyarakat. Biasanya yang melakukan BABS paling sering ditemukan dipinggir sungai, karena dekat dengan air. Namun permasalahannya adalah sungai di Indonesia masih menjadi sumber air utama di daerah sekitar sungai tersebut.

Diare

BABS dapat mencemari air sungai yang bersih dan membuat air dapat menyebarkan berbagai penyakit jika dikonsumsi dan digunakan untuk mandi. Penyakit yang dapat menyebar dari perilaku BABS di sungai misalnya adalah diare. Menurut WHO, seperempat dari semua anak di bawah usia 5 tahun di Indonesia menderita diare, yang menjadi penyebab utama kematian anak di Indonesia. Diare merupakan penyakit yang paling mematikan kedua setelah infeksi saluran pernapasan akut. Penyebab utamanya jelas karena buruknya akses terhadap air bersih serta sanitasi. Dari data BPS pada 2017, baru 63,32% rumah tangga di Indonesia yang memiliki jamban sendiri dan dilengkapi tangki septik.

Kualitas Air Buruk

Akibat perilaku BABS yang masih sering ditemui, banyak sumber air yang tercemar. Sumber air tersebut biasanya digunakan untuk minum, mencuci, dan mandi. Dilansir dari WHO, sebuah survei air minum di Yogyakarta pada 2017 menemukan bahwa 89% sumber air dan 67% air minum rumah tangga terkontaminasi oleh bakteri tinja. Hal ini sangat memprihatinkan, melihat sumber air tercemar bakteri tinja yang kemungkinan besar dikonsumsi oleh masyarakat, dapat mengakibatkan penyakit lainnya. Indonesia harus memperhatikan akses air bersih di tiap daerahnya. Berkaca dari negara lain yang akses air bersihnya sangat baik, sehingga air dari keran pun dapat langsung diminum karena terjamin kebersihannya. Indonesia harus menjadikan negara-negara tersebut sebagai motivasi untuk terus maju terutama dalam hal sanitasi.

Perhatian Lebih

Isu terkait sanitasi ini merupakan masalah serius karena melibatkan kesehatan masyarakat. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam Webinar memperingati Hari Toilet Sedunia 2020, mendorong semua pihak untuk mendukung target pemerintah agar praktik BABS mencapai nol persen pada 2024.Melihat kondisi sanitasi di Indonesia terus membaik, saya rasa hal tersebut dapat dilakukan jika semua lapisan masyarakat disiplin membantu pemerintah.

Terutama dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti ini yang mengharuskan gerakan 3M termasuk selalu mencuci tangan, mengharuskan setiap titik memiliki akses air bersih agar dapat mencuci tangan dengan bersih. Selain itu, kondisi Covid-19 ini mungkin juga akan mendorong kebiasaan selalu menjaga kebersihan tubuh sehingga kesadaran akan sanitasi yang baik akan meningkat. Pemerintah juga harus membantu masyarakat dalam memberikan fasilitas umum seperti toilet dan tempat cuci tangan yang bersih dan selalu memiliki sabun. Sebab tak jarang di sebuah toilet tidak ada sabun untuk mencuci tangan, padahal hal tersebut merupakan dasar dalam menjaga kebersihan.

Sumber : https://kumparan.com/suci-aulia-rahma/sanitasi-di-indonesia-masih-butuh-perhatian-lebih-1udnCIMFM2z/full

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *