Dampak Sanitasi Berlebih Terhadap Lingkungan

Masyarakat modern saat ini, khususnya yang tinggal di perkotaan umumnya menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam ruangan. Kabar buruknya, para ilmuwan memperingatkan bahwa kurangnya aktivitas di luar ruangan dapat dihubungkan dengan berbagai masalah kesehatan kronis, misalnya alergi, asma, depresi, sindrom iritasi usus besar, dan obesitas.

Pandemi COVID-19 yang melanda dunia di tahun 2020 juga memicu para ahli untuk mulai meneliti mengapa bangunan yang dirancang steril dari mikroba sekalipun, dapat menjadi vektor penyakit, tak terkecuali COVID-19.

Mengutip Bloomberg, desain bangunan-bangunan yang tidak sejajar dengan lingkungan dapat menjadi salah satu faktor penyebab timbulnya berbagai penyakit kronis dan pandemi saat ini. 

Kurangnya aliran udara, sinar matahari, suhu, kelembapan, serta polusi udara dalam ruangan adalah masalah yang perlu ditangani. Tetapi faktor yang tidak kalah penting yang memengaruhi kesehatan manusia dan lingkungan adalah microbiome. Sayangnya, saat ini microbiome masih belum banyak menjadi bahan perbincangan yang utama.
 

Apa Itu Microbiome?

Dampak Sanitasi Berlebihan yang Dapat Memicu Bencana


Penyebaran infeksi virus COVID-19 yang begitu cepat membuat masyarakat mengambil langkah sanitasi dan disinfeksi yang lebih sering dan luas. Virus yang tidak terlihat mata menjadi momok di manapun, baik ketika beraktivitas di luar maupun dalam ruangan. 

Permintaan cairan disinfektan pun meningkat drastis, terbukti dari alkohol dan hand sanitizer yang diborong habis dan stoknya langka di masa-masa awal pandemi tahun 2020. Tak jarang pula di ruang publik dan jalan raya dilakukan disinfeksi dengan menyemprotkan cairan disinfektan (alkohol atau air sabun) secara luas.

Sayangnya perlakuan sanitasi berlebih seperti ini memiliki konsekuensi tersendiri dari sudut pandang para ahli. Selain mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, menyemprot jalanan dan ruangan dengan disinfektan bukannya efektif, tetapi hanya membuang waktu dan uang karena beberapa alasan. Apa saja?
 

1. Tidak Efektif

2. Melemahkan Sistem Imun

  • Haahtela, T et al. “Hunt for the origin of allergy – comparing the Finnish and Russian Karelia.” Clinical and experimental allergy : journal of the British Society for Allergy and Clinical Immunology vol. 45,5 (2015): 891-901. doi:10.1111/cea.12527
  • Prussin, Aaron J 2nd et al. “Total Virus and Bacteria Concentrations in Indoor and Outdoor Air.” Environmental science & technology letters vol. 2,4 (2015): 84-88. doi:10.1021/acs.estlett.5b00050
  • Winter, Caroline. “To Make a Building Healthier, Stop Sanitizing Everything.” Bloomberg, Bloomberg Businessweek, 16 Dec. 2020, www.bloomberg.com/news/features/2020-12-16/covid-pandemic-microbiomes-could-be-key-to-stopping-spread-of-future-viruses.
  • Feltman, Rachel. “Hotel Rooms Aren’t Yucky – You Colonize Them with Your Own Personal Bacteria within Hours.” Washington Post, 28 Aug. 2014, www.washingtonpost.com/news/speaking-of-science/wp/2014/08/28/cops-could-use-bacterial-signatures-to-catch-a-murderer.

Sumber : https://nusantics.com/id/blog/dampak-sanitasi-berlebih-terhadap-lingkungan

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *