Air Bersih dan Sanitasi Sangat Membutuhkan Komitmen Keberpihakan Bagi Daerah Tertinggal

 Air minum dan sanitasi yang layak adalah kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi. Tanpa keduanya, manusia akan mengalami kesulitan untuk menjalani kehidupan. Hal ini sangat disadari oleh pemerintah yang memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan akses terhadap air minum dan sanitasi yang layak kepada seluruh rakyat Indonesia.

“Meski telah mengalami kenaikan, kami sadar bahwa akses terhadap air minum dan sanitasi layak di negeri ini harus terus lebih ditingkatkan. Bila merujuk pada target Millenium Development Goals(MDGs) 2015, kami harus memastikan bahwa 68,87 persen penduduk harus sudah mendapatkan akses air minum layak dan sebesar 62,41 persen harus memiliki akses sanitasi layak,” ujar Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Bappenas, Dedy Supriadi Priatna.

Dikatakan, demi memastikan tersedianya akses air minum dan sanitasiyang layak kepada seluruh lapisan masyarakat, pemerintah telah menjalankan berbagai program yang setiap tahun menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS)dan Kementerian Pekerjaan Umum 2012, sampai dengan akhir tahun lalu sebanyak 58,05 persen masyarakat telah mendapatkan akses air minum layak. Pada tahun 2012 data juga menunjukkan bahwa sebanyak 57,35 persen rumah tangga sudah memiliki akses sanitasi layak.

Setiap tahunnya capaian akses air minum dan sanitasi layak di Indonesia telah mengalami perkembangan positif dengen kenaikan rata-rata sebesar 2% per tahun baik pada akses air minum maupun sanitasi layak.

“Hal ini layak menjadi perhatian karena peningkatan cakupan terhadap akses sanitasi dan air minum layak secara langsung maupun tidak langsung membantu memperbaiki derajat kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan,” kata Dedy.

Air minum dan sanitasi erat kaitannya dengan penyebaran water borne diseaseseperti diare dan cacingan. Berdasarkan Laporan Riset Kesehatan Dasar 2007, diare merupakan penyebab kematian terbesar pada bayi (usia 29 hari-11 bulan) dan balita (usia 12-59 bulan). Diperkirakan sebanyak 31,4% bayi dan 25,2% balita mati setiap tahunnya akibat diare.

Ia menambahkan bahwa masih ada selisih yang harus dipenuhi untuk mencapai target yaitu sebesar 10,82 persen untuk air minum dan 5,06 persen untuk sanitasi. Artinya diperlukan usaha minimal 3 (tiga) kali lipat dibandingkan yang telah dilakukan saat ini.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *