Awas, Sanitasi Buruk Bisa Mengancam Kematian

Mungkin Anda pernah selintas mendengar istilah satu ini. Soal ini juga tengah gencar dikampanyekan pemerintah. Salah satunya, dengan membangun jamban di berbagai daerah yang menghabiskan anggaran triliunan rupiah. Tapi apa sebenarnya sanitasi sendiri? 

Menurut Kepala Sanitasi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Zulfia Maharani, sanitasi diartikan sebagai upaya seseorang atau masyarakat untuk menjaga faktor-faktor lingkungan agar tidak menimbulkan masalah bagi kesehatan. Menurutnya, sanitasi secara umum meliputi penyediaan air bersih, jamban keluarga dan pengelolaan sampah atau limbah yang baik.

“Sanitasi itu upaya mencegah timbulnya masalah kesehatan. Kita bisa dimulai bagaimana kita memberi contoh kepada yang lain. Semisal dalam lingkungan terkecil yang harus sudah ditanamkan sejak dini. Tentunya kita harus mengajak mereka baik di keluarga ataupun lingkungan.” ujar Zulfia dalam perbincangan Klinik KBR68H, Selasa (5/10).

Zulfia menambahkan permasalahan sanitasi sebenarnya bukan perlu diperhatikan oleh masyarakat pedesaan saja. Tapi menurutnya, masyarakat perkotaan masih banyak yang kurang memiliki pengaturan sanitasi yang baik. Baik dalam lingkungan keluarga maupun di lingkungan masyarakat sekitar.

Dampak Sanitasi yang Buruk

Selain itu, berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Indonesia merugi hingga Rp 56 triliun tiap tahun akibat sanitasi buruk. Selain itu sanitasi Indonesia juga sangat tertinggal dibandingkan negara-negara lain. Selain kerugian materi, buruknya sanitasi juga berpengaruh terhadap kesehatan anak-anak Indonesia. Tercatat setiap tahunnya 1,4 juta anak-anak Indonesia mengalami diare akibat sanitasi yang buruk.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh LSM Kesehatan Water and Sanitation Hygiene (WASH) Plan. Program Manager WASH Plan, Eka Setiawan  mengatakan, kerugian tersebut sebagai akibat biaya penghilangan kontaminasi tanah dan air, serta biaya pengobatan karena sanitasi yang buruk. Menurutnya, akibatnya buruknya sanitasi di Indonesia sekitar 150 ribu anak Indonesia meninggal dunia akibat diare.

“Diare itu pembunuh no 1 di Indonesia. Tapi kalau di Indonesia merupakan pembunuh no 2 setelah pneumonia. Jadi kalau anak-anak menderita diare dalam waktu 2 hari tidak diobati maka bisa menyebabkan meninggal dunia. Jadi sangat berbaya sekali diare itu, ” jelas Eka dalam Perbincangan Klinik KBR68H.

Perilaku yang Masih Buruk

Disamping itu, Wash Plan juga mencatat masih ada sekitar 70 juta orang di Indonesia yang membuang air sembarangan. Eka menambahkan, meskipun sudah banyak dibangun jamban atau toilet di berbagai daerah, jumlah tersebut belum banyak berkurang. Menurutnya, salah satu sebabnya pola perilaku masyarakat yang masih sulit diubah untuk membuang air pada tempatnya.

“Pendekatan kita selama ini yang menghabiskan biaya triliunan rupiah ternyata tidak serta-merta menyelesaikan masalah. Saya banyak menemukan di daerah-daerah, meskipun sudah ada jamban, mereka masih membuang air besar di sungai atau kali-kali. Karena itu strategi yang perlu diterapkan yaitu perlunya perubahan perilaku masyarakar, agar mau membuang air besar di jamban-jamban yang sudah disediakan,” jelas Eka

Eka mencontohkan salah satu pendekatan sederhana untuk mengubah perilaku masyarakat yang buruk dalam sanitasi yaitu dengan mengajak mereka berkeliling ke lingkungan sekitar. Mereka diajak melihat limbah-limbah kotoran buang air besar mereka yang menumpuk di sungai-sungai. Sehingga, dengan demikian mereka kemudian muncul kesadaran tidak akan membuang air besar kembali secara sembarangan.

“Kalau di kita itu ada program namanya STBM yaitu sanitasi total berbasis masyarakat. Contohnya di daerah Kabupaten Timor Tengah Utara dan Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. 83 persen masyarakatnya sudah menggunakan jamban secara mandiri. Itu karena mereka sudah tergugah, kontribusi mereka sendiri sebesar 35 miliar.Itu yang harus kita hargai dan apresiasi,” ucap Eka

Eka berharap kedepan program-program serupa STBM akan lahir juga di daerah-daerah lain di seluruh Indonesia. Sehingga masyarakat nantinya bisa secara mandiri dan sadar untuk membuat sanitasi yang baik untuk kesehatan bersama.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *